Aku benci berada di sini.
Terkungkung dalam lingkaran sunyi.
Hanya putih.
Warna-warni di latar belakang hanya pahatan berdiri.
Aku benci tempat ini.
Nyanyian sendu mendenting bergema berganti.
Tapi nyanyian ini tak terdengar tak terpatri.
Dimana yang lain?
Aku benci, aku ingin berlari.
Berlari jauh tak ingin ingat lagi di sini.
Di sini terkungkung dalam sepi.
Terjerat dalam benci.
Bila aku pergi, tanpa membawa perduli,
Akankah menyakiti mereka tambatan hati?
Bisakah aku pergi tanpa membawa perduli?
Karena ingin kutinggalkan perduli ini dalam runtuhan sunyi.
© Bandung, 22 oktober 2007
Rating
129
points
Views: 60 reads
Comments: 16
Rating:
Comments: 16
Rating:
Delicious
Digg
StumbleUpon
Propeller
Reddit
Furl
Facebook
Google
Yahoo
Technorati
Terkadang benci tidak selamanya bersifat negatif...
ah, seperti saia yg benci berada di sini..
.
.
komen tulisanku juga yah!
merasa asing dikumpulannya... hal itu biasa terjadi dalam hidup. chairil anwar aja sampai mengganbarkan dirinya sebagai binatang jalang yang terbuang dari kumpulannya, but so nice..
semangat
>:D<
selamat datang di kerajaan sunyi-ku...
jangan lupa bayar upeti...
puisi in terasa tajam aroma keluruhannya...
<!--break-->
pergilah
puisi tak harus berakhiran sama kok tiap baitnya. yang penting kan maknanya.
Pergilah.....kebebasan itu milikmu sepenuhnya!!^^nice poem!
mereka tamabatan hati????
banyak yach???
hahahaha,,,
uh meninggalkan perdli dalam runtuhan sunyi
hebat sekali kata2nya
mampir lagi ya ke tempatku
wich menantang skali
runtuhan sunyi
sips sip !